Rabu, 13 April 2016

Imlek

Saya berasal dari Sungailiat, Bangka. Kota ini dihuni oleh warga Keturunan Tionghoa, mungkin, sebanyak lebih 50%, yang mayoritas dari Suku Hakka/Khek dan menganut agama Kong Fu Cu. Selama saya berada di Sungailiat, sama sekali tidak ada kerusuhan atau sentimenisme SARA. Latar belakang sejarah Tionghoa di Bangka pun sudah saya pelajari secara literer maupun realitas.
Orangtua saya asli Jawa; Ayah saya orang Madiun dan Ibu saya orang Karanganyar, Solo. Tahun 1953 Ayah saya pindah ke Sungailiat dan menetap dalam rangka tugas negara sebagai veteran Tentara Pelajar area Malang (dulu beliau sekolah di STM Malang). Ibu saya pindah ke Sungailiat dan menetap tahun 1960 dalam rangka menjadi karyawan Unit Penambangan Timah Bangka (UPTB, kini PT. Timah) sebagai perawat di rumah sakit UPTB (kini Medika Stania) Sungailiat.
Saya tinggal di kampung Sri Pemandang Atas. Keluarga saya beragama Katolik, dan mayoritas tetangga saya beragama Islam. Rumah orangtua saya dibangun oleh keluarga Min Ho, pemborong kecil-kecilan yang rumahnya berjarak tidak sampai satu kilometer dari rumah orangtua saya. Dari pemborong, kepala tukang hingga pembantunya adalah keluarga Min Ho. Mereka asli Tionghoa, Khek/Hakka, dan Kong Fu Cu. Sampai saya dewasa, orangtua saya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga Min Ho.
Sebagian tetangga saya adalah Tionghoa bersuku Hakka/Khek dan beragama Kong Fu Cu. Keluarga Atung sang anemer kelas menengah, keluarga Bong Acit yang mempunyai toko di simpang Sri Pemandang Atas, keluarga Ajin yang berumah di depan surau kampung kami, keluarga Alun yang bersebelahan dengan keluarga Ajin, keluarga Tong Sen yang masih keluarga Alun, keluarga Achiang yang mempunyai usaha pabrik tahu dan jahit pakaian, dan keluarga Asiuk yang memiliki pohon rambutan di sekeliling rumah mereka.
Sebelum saya mengenyam bangku sekolah, saya selalu diajak keluarga besar saya berkunjung ke rumah tetangga yang sedang merayakan Imlek. Orang daerah saya menyebutnya “Kongian”. Yang paling saya ingat adalah ketika diajak ber-Imlek di rumah keluarga Achiang karena di sana saya sekeluarga besar selalu langsung dipersilakan ke dapur, diberi satu meja bundar, dan lengkap dengan makanan. Sama sekali tidak pernah di ruang tamu.
Dan di kampung kami yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tidak pernah anti terhadap orang Tionghoa dan Imlek-nya. Amin, anak sulungnya Anemer Atung adalah kiper kesebelasan kampung kami (Panser – Persatuan Anak Sri Pemandang, yang pernah merajai persepakbolaan tahun 1980-an di kabupaten Bangka yang luasnya nyaris satu pulau Bangka), dan kiper PS Bangka. Acin, anak ketiga pemborong Min Ho, juga kiper, dan sampai PS Bangka. Ada lagi kawan saya, Acuy alias Bacuy alias Bacok, orang Tionghoa kampung sebelah yang jadi strikernya, termasuk di PS Bangka.
Para pemuda kampung kami selalu bersatu. Untuk pendekatan kepada seorang cewek, datangnya juga beramai-ramai pada malam Minggu. Bahkan Amin anak Atung jadi mualaf karena istrinya gadis Melayu-Islam. Untuk yang satu ini (mendekati cewek) saya tidak pernah bergabung sebab saya memiliki agenda malam Minggu (ini rahasia pribadi!) dengan kawan-kawan yang lain. Tetapi setiap hari raya Imlek, saya dan kawan-kawan kampung selalu bertamu ke rumah tetangga yang merayakannya.
Saya bersekolah (TK sampai SMP) di sekolah milik yayasan Katolik. Sekolah ini berisi sekitar 70% kawan Tionghoa. Beberapa guru adalah orang Tionghoa/Khek. Ketika SMP, kepala sekolah kami orang Tionghoa. Dari TK sampai SMP saya bisa satu kelas dengan kawan-kawan yang sama. Ketika kelas I SD, orangtua saya memiliki pembantu yang beretnis Tionghoa.
Sekolah kami, yang mayoritas muridnya beretnis Tionghoa-Kong Fu Cu dan 30%-50% gurunya juga Tionghoa, otomatis selalu berlibur tiga hari selama Hari Raya Imlek. Padahal, secara nasional, pada tahun 1980-an rezim ORBA melarang keras perayaan Imlek itu. Selama tiga hari itu saya bebas bertamu. Ke tetangga sekitar rumah, maupun ke rumah kawan-kawan sekolah saya di kawasan Pasar Sungailiat. Saya pun bahagia bersama mereka.
Tapi sejak 10 Juni 1987  hingga 14 Mei 2005 saya tidak merayakan Imlek karena saya tinggal di Yogyakarta untuk mengembalikan “ke-Jawa-an” saya. Saya sering pulang ke rumah mbah saya di Solo, dan kadang ke Madiun. Sayangnya, saya tidak mampu menjadi Jawa 100% atau minimal 80% karena jiwa saya sudah menyatu dengan belacan dan air timah Bangka.
Di Sungailiat saya masih menikmati Imlek tahun 2006. Jelang pertengahan 2006 saya pindah ke Jakarta Barat. Tahun 2007 dan 2008 saya ber-Imlek di Jakarta. Tahun 2009 adalah Imlek terakhir saya alami di Sungailiat.
Selain itu, di Jakarta Barat saya memiliki bos/atasan beretnis Tionghoa dan berasal dari Bangka. Saya selalu senang bekerja bersama orang Tionghoa, apalagi kalau dari Bangka. Soal berapa gaji saya sepatutnya, mereka mampu menghargai. Bukan soal besar-kecil gaji tetapi bekerja dengan semangat kerukunan orang Bangka yang pluralis itu memang mantap.
Reuni sekolah 26 Oktober 2012 mengembalikan saya kepada hakikat persahabatan dan persaudaraan saya dengan kawan-kawan Tionghoa. Malam Tahun Baru 1 Januari 2013 saya berkumpul lagi dengan kawan-kawan di Sungailiat. Saya sangat mengasihi orang-orang Tionghoa sampai akhir hayat saya nanti.

********
Martadinata Balikpapan, 4 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar