Walaupun sudah
menjadi warga Balikpapan, Kaltim, sejak 2009, saya tidak bisa melupakan Imlek
ketika masih tinggal di Sungailiat, Bangka yang kemudian saya abadikan dalam
tulisan “Imlek Bagi Saya”. Selama 7 tahun saya mengunjungi rumah orang Tionghoa
yang ber-Imlek hanya satu kali, yaitu rumah keluarga Pak Kiman pada 2563 atau
2012 M.
Lainnya atau selanjutnya, seperti kawan sejak 2010–si tukang martabak rasa Bangka nan terlezat di
Balikpapan alias Asen? Tidak pernah. Sebabnya? Asen sekeluarga biasanya pulang
ke Pangkalpinang, Bangka. Jadi, saya ber-Imlek dengan ingatan, kenangan, dan
apa saja yang ada dalam pikiran saya.
Dengan khayalan itu, kemarin, di akun FB saya pun mengucapkan “Gong Xi
Fa Chay, Selamat Kongian” berlatar foto pemandangan depan Puri Tri Agung,
Sungailiat, yang saya kunjungi pada 2 November 2015. Dua hari sebelumnya, saya
memajang foto berupa kotak martabak “Asen” yang “paling Bangka se-Balikpapan”.
Kedua pajangan tersebut merupakan “kerinduan” ber-Imlek saya yang telah jauh
dari Bangka.
Pada pajangan foto kotak martabak, kawan saya–Pak Puji, seorang
Muslim-Jawa yang rajin sholat dan dosen di sebuah universitas di Balikpapan
–mengomentari dengan menyebut nama “Pak
Kiman”. Saya teringat, pada Imlek 2012 itu saya ber-Imlek di rumah Pak Kiman karena
diajak oleh kawan saya itu. Apakah kawan saya sengaja “menyindir” agar saya mau
diajak lagi ber-Imlek ke rumah Pak Kiman?
Langsung saya tanggapi dengan ajakan ber-imlek ke rumah Pak Kiman. Apa
asyiknya ber-Imlek hanya dalam kepala saya sendiri, ‘kan? Saya harus membumi;
Balikpapan bukanlah Sungailiat. Baiklah.
Dan, senyampang kawan saya lainnya–Agus, sealumni kampus dengan
saya–berkunjung ke rumah pada malam sebelum Imlek. Dalam kunjungannya, dia
sempat menelpon seorang kawannya–Amuk, orang Bangka. Dia mengucapkan “Selamat
Imlek”. Ternyata pada Imlek ini kawannya berada di Balikpapan (biasanya ketika
Imlek dia berada di Jakarta), dan menyuruh kawan saya untuk datang.
Beberapa bulan silam kawan saya pernah mengenalkan saya dengan Amuk
melalui hubungan seluler. Sebagai sesama orang Bangka, apalagi satu kabupaten
(Bangka Induk), saya dan Amuk ngobrol menggunakan bahasa Bangka bercampur
Tionghoa. Obrolan berasa di daerah sendiri.
Ya! Berarti Imlek 2567 atau 2016 M kali ini saya akan mengunjungi dua
orang Tionghoa-Bangka! Berarti juga saya tidak perlu mengulangi Imlek hanya
dalam kepala saya sendiri, apalagi kalau diam-diam ada yang menuduh saya sedang
galau tingkat Kotamadya Balikpapan.
*
Imlek, yang kata
orang, berhubungan intim dengan hujan, tidaklah demikian pada Imlek 2016. Satu
hari menjelang Imlek, cuaca tampak galau. Mendung sebatas iklan. Demikian pula
ketika bertepatan dengan Imlek 2016. Hubungan intim tersebut tidak perlu saya
percaya. Mending percaya bahwa kunjungan Imlek akan lebih bermanfaat dalam
kesehatan pikiran.
Ini Balikpapan. Imlek-nya tanpa hujan pada 2016. Di Bangka, menurut
berita, malah terjadi banjir di beberapa tempat. Sepertinya cuaca sedang
mendukung saya untuk keluar rumah; bukannya berkhayal melulu.
Maka, dalam suhu udara yang cukup gerah (Monyet Api sedang memanggang
Balikpapan) pada pkl. 13.00 WITA saya dan kawan saya berangkat ke rumah Amuk.
Hanya sekitar 15 menit perjalanan, kami pun sampai.
Di sanalah saya benar-benar bertemu dan ngobrol langsung dengan Amuk.
Dia berasal dari daerah Pantai Rebo, yang berkecamatan Kenanga. Daerahnya,
tentu saja, bukan daerah baru bagi saya. Kemudikan saya sampai berkunjung dan
terabadikan dalam foto berupa Puri Tri Agung memang daerahnya.
Amuk berada dan bekerja di Balikpapan sejak 2012. Di rumah bertipe 45
dengan gaya masa kini (minimalis amburadul) sebagiann halamannya ditanami bayam
itu dia tempati baru satu tahun. Sebelumnya masih mengontrak rumah di
sana-sini.
Pada kesempatan Imlek ini saya pun bisa berkenalan dengan istrinya (saya
lupa namanya!). Ternyata istrinya sealumni dengan saya di SD dan SMP Maria
Goretti, Sungailiat! Istrinya adik kelas saya tetapi jauh tahun perbedaannya.
Istrinya masih tergolong keponakan Pak Min Ho–guru bidang pelajaran Matematika
dan Olah Raga di SD Maria Goretti. Wadaw!
Wadaw lagi, sajian Imlek mereka adalah tekwan.
Cocok! Imlek kali ini sangat terasa Bangka-nya bagi saya. Memang tidak perlu
repot berkhayal, jika Imlek di Balikpapan adalah kenyataan, meski saya harus
beralih ke rumah Pak Kiman tanpa disertai kawan saya karena dia akan ke rumah
kawannya.
Letak rumah Pak Kiman masih lekat dalam ingatan saya. Dua tiang ulin
(kayu hitam) yang masih utuh (bulat) di teras sampingnya adalah penanda utama
sejak Imlek 2012. Dan, memang tidak berubah.
Sekitar pkl. 15.00 WITA saya berada di teras samping yang berkursi
potongan kayu ulin itu. Pak Puji belum sampai. Ketika saya hubungi, tidak ada
sahutan di seberang udara sana. Baiklah, saya lanjutkan obrolan dengan Pak
Kiman.
Pak Kiman berasal dari Kampung Opas, Pangkalpinang, Bangka. Saya
teringat, di daerah itu terdapat kantor konsultan bangunan, yang pernah menjadi
tempat kerja saya. Oh, ini suatu kebetulan seperti apa lagikah?!
Berikutnya Pak Kiman berada di Balikpapan pada 1999. Menempati rumah
bertiang ulin itu sejak 2002. Dia masih memiliki lahan seluas 4 hektar di
daerah Balikpapan Timur. Sebagian lahannya di sana ditanaminya dengan pepohonan
buah, dan sedang ditanami sahang (lada; merica) yang berasal dari Bangka.
Ya, Pak Kiman memang rajin berkebun. Berkebun merupakan salah satu
kegiatan yang ditekuni oleh masyarakat Tionghoa-Bangka. Bahkan, saya tidak
heran, seorang kawan sealumni saya di SMP Maria Goretti adalah seorang pekebun
sayur di daerah Jalan Laut, Sungailiat.
Kemudian saya sempatkan menghubungi Pak Puji lagi. Tersambung. Ternyata
Pak Puji ketiduran. Pak Puji pun segera berangkat ke rumah Pak Kiman.
Pkl. 17.50 WITA Pak Puji datang. Tapi saya tidak bisa menemani ngobrol
tingkat lanjut karena saya harus pulang (setelah perut kenyang soto dan es buah
cempedak). Ya, pkl. 18.15 WITA saya berpamitan pada Pak Kiman sekeluarga.
Imlek 2567 atau 2016 M ini alangkah senangnya saya, meski hanya
berkunjung ke dua rumah orang Tionghoa. Senangnya saya karena bisa ber-Imlek
lagi, ngobrol dengan sesama Bangka, dan berbahasa Bangka bercampur Tionghoa.
Terasa sekali Bangka-nya!
*******
Panggung Renung – Balikpapan, 8 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar