1 Muharam,
atau 1 Suro di Jawa yang biasanya ramai pada malam menjelang 1 Suro, dengan
ritual membersihkan benda-benda pusaka nan keramat dan orang-orang begadang
atau keluyuran, baik hanya berjalan kaki maupun naik kendaraan ke tempat-tempat
tertentu sehingga keramaian terjadi di jalan-jalan.
Kali ini bukan di Jawa, tepatnya Jogja yang
mulai saya datangi-huni pada 10 Juni 1987 dan saya tinggalkan 14 Mei 2005.
Sementara itu tentang Hari Raya 1 Muharam di Bangka, saya ketahui sekitar tahun
1980-an namun saya belum pernah pergi ke sana meski ternyata di daerah saya,
Sungailiat, sendiri. Barangkali suatu kebetulan, ketika saya mudik 28 Desember
2008, besoknya, 29 Desember adalah 1 Muharam 1430 H.
1 Muharam 1430 H (29 Desember 2008 M) saya
alami di Sungailiat, Bangka (Sungailiat adalah ibukota kabupaten Bangka,
provinsi Bangka Belitung. Bukan ibukota provinsi). Tetapi 1 Muharam menjadi
sebuah hari raya bukanlah bagi penduduk seluruh Sungailiat, melainkan hanya
dirayakan oleh sekitar 5 % penduduk di suatu tempat yang berada di jalan utama
Sungailiat – Pangkalpinang, tepatnya kecamatan Air Kenanga. Itu pun tidak
seluruh kecamatan itu merayakannya. Hanya pada wilayah sepanjang nyaris 1 km di
kanan-kiri jalan utama tersebut.
Dari kampung saya menuju daerah itu, melewati
jalan Pemuda (kawasan perkantoran Pemda Bangka), belok kanan di pertigaan
Paritpadang, terus melewati pertigaan yang salah satu jalannya (belok kiri)
menuju pantai Rebo, ambil jalan lurus (utama) ke arah Pangkalpinang. Kanan-kiri
jalan masih tampak nuansa penduduk etnis Tionghoa, yakni terlihat dari kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan
tempat sembahyang keluarga di depan rumah. Sampai pada sebuah kompleks
pemakaman kampung di sebelah kanan jalan, di sanalah dimulai kehidupan penduduk
muslim.
Di depan saya, jalan dipadati kendaraan. Agak
macet. Mobil-mobil yang hendak melintas dari atau ke Sungailiat bergerak sangat
lambat karena di kanan-kiri badan jalan selebar 8 meter itu terparkir
mobil-mobil orang bertamu, baik masih berhubungan keluarga yang selama ini tinggal di luar daerah
tersebut maupun orang lain yang sengaja singgah untuk turut berhari raya di
situ meski tidak mengenal siapa tuan rumah yang mereka kunjungi.
Saya melihat rumah-rumah penduduk terlihat ramai. Orang-orang
berpakaian hari raya, di luar dan di dalam rumah. Beberapa di antara mereka
bersalaman. Toples-toples makanan ringan terhidang di meja. Belum lagi makanan
lainnya.
Di samping itu beberapa pedagang jajanan, terutama pedagang
bakso, es, dan mainan anak-anak keliling yang umumnya adalah orang Jawa.
Saya melanjutkan perjalanan, mengisi bahan
bakar, lalu terus ke batas gerbang Sepintu Sedulang, yang berdekatan dengan
sebuah kompleks perumahan sederhana. Melewati gerbang Sepintu Sedulang, suasana
langsung berubah. Kanan-kiri jalan ditempati rumah-rumah penduduk beretnis Cina
dengan kekhasan kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan tempat
sembahyang keluarga di depan rumah.
Barangkali satu kali ini sajalah saya
benar-benar melihat realitas Hari Raya 1 Muharam di daerah Air Kenanga,
Sungailiat, yang tidak ada di daerah-daerah dalam provinsi Bangka Belitung.
Menurut seorang kawan, Hari Raya 1 Muharam
lebih banyak memakan biaya dibanding Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha karena
orang-orang di sana menerima pula tamu-tamu luar yang sama sekali tidak mereka
kenal, selain kunjungan sanak-saudara yang terpencar di seluruh penjuru
provinsi bahkan luar provinsi. Hari raya itu merupakan salah satu bagian acara
adat yang telah berlangsung lebih 100 tahun, dan hanya terjadi di sana.
*******
Sri Pemandang Atas Sungailiat, 30 Desember 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar