Rabu, 13 April 2016

Hari Raya 1 Muharam 1430 H

1 Muharam, atau 1 Suro di Jawa yang biasanya ramai pada malam menjelang 1 Suro, dengan ritual membersihkan benda-benda pusaka nan keramat dan orang-orang begadang atau keluyuran, baik hanya berjalan kaki maupun naik kendaraan ke tempat-tempat tertentu sehingga keramaian terjadi di jalan-jalan.
Kali ini bukan di Jawa, tepatnya Jogja yang mulai saya datangi-huni pada 10 Juni 1987 dan saya tinggalkan 14 Mei 2005. Sementara itu tentang Hari Raya 1 Muharam di Bangka, saya ketahui sekitar tahun 1980-an namun saya belum pernah pergi ke sana meski ternyata di daerah saya, Sungailiat, sendiri. Barangkali suatu kebetulan, ketika saya mudik 28 Desember 2008, besoknya, 29 Desember adalah 1 Muharam 1430 H.
1 Muharam 1430 H (29 Desember 2008 M) saya alami di Sungailiat, Bangka (Sungailiat adalah ibukota kabupaten Bangka, provinsi Bangka Belitung. Bukan ibukota provinsi). Tetapi 1 Muharam menjadi sebuah hari raya bukanlah bagi penduduk seluruh Sungailiat, melainkan hanya dirayakan oleh sekitar 5 % penduduk di suatu tempat yang berada di jalan utama Sungailiat – Pangkalpinang, tepatnya kecamatan Air Kenanga. Itu pun tidak seluruh kecamatan itu merayakannya. Hanya pada wilayah sepanjang nyaris 1 km di kanan-kiri jalan utama tersebut.
Dari kampung saya menuju daerah itu, melewati jalan Pemuda (kawasan perkantoran Pemda Bangka), belok kanan di pertigaan Paritpadang, terus melewati pertigaan yang salah satu jalannya (belok kiri) menuju pantai Rebo, ambil jalan lurus (utama) ke arah Pangkalpinang. Kanan-kiri jalan masih tampak nuansa penduduk etnis Tionghoa, yakni terlihat dari kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan tempat sembahyang keluarga di depan rumah. Sampai pada sebuah kompleks pemakaman kampung di sebelah kanan jalan, di sanalah dimulai kehidupan penduduk muslim.
Di depan saya, jalan dipadati kendaraan. Agak macet. Mobil-mobil yang hendak melintas dari atau ke Sungailiat bergerak sangat lambat karena di kanan-kiri badan jalan selebar 8 meter itu terparkir mobil-mobil orang bertamu, baik masih berhubungan keluarga yang selama ini tinggal di luar daerah tersebut maupun orang lain yang sengaja singgah untuk turut berhari raya di situ meski tidak mengenal siapa tuan rumah yang mereka kunjungi.
Saya melihat rumah-rumah penduduk terlihat ramai. Orang-orang berpakaian hari raya, di luar dan di dalam rumah. Beberapa di antara mereka bersalaman. Toples-toples makanan ringan terhidang di meja. Belum lagi makanan lainnya.
Di samping itu beberapa pedagang jajanan, terutama pedagang bakso, es, dan mainan anak-anak keliling yang umumnya adalah orang Jawa.
Saya melanjutkan perjalanan, mengisi bahan bakar, lalu terus ke batas gerbang Sepintu Sedulang, yang berdekatan dengan sebuah kompleks perumahan sederhana. Melewati gerbang Sepintu Sedulang, suasana langsung berubah. Kanan-kiri jalan ditempati rumah-rumah penduduk beretnis Cina dengan kekhasan kertas-kertas merah di kusen atas pintu depan, dan tempat sembahyang keluarga di depan rumah.
Barangkali satu kali ini sajalah saya benar-benar melihat realitas Hari Raya 1 Muharam di daerah Air Kenanga, Sungailiat, yang tidak ada di daerah-daerah dalam provinsi Bangka Belitung.
Menurut seorang kawan, Hari Raya 1 Muharam lebih banyak memakan biaya dibanding Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha karena orang-orang di sana menerima pula tamu-tamu luar yang sama sekali tidak mereka kenal, selain kunjungan sanak-saudara yang terpencar di seluruh penjuru provinsi bahkan luar provinsi. Hari raya itu merupakan salah satu bagian acara adat yang telah berlangsung lebih 100 tahun, dan hanya terjadi di sana.

*******
Sri Pemandang Atas Sungailiat, 30 Desember 2008

Imlek

Saya berasal dari Sungailiat, Bangka. Kota ini dihuni oleh warga Keturunan Tionghoa, mungkin, sebanyak lebih 50%, yang mayoritas dari Suku Hakka/Khek dan menganut agama Kong Fu Cu. Selama saya berada di Sungailiat, sama sekali tidak ada kerusuhan atau sentimenisme SARA. Latar belakang sejarah Tionghoa di Bangka pun sudah saya pelajari secara literer maupun realitas.
Orangtua saya asli Jawa; Ayah saya orang Madiun dan Ibu saya orang Karanganyar, Solo. Tahun 1953 Ayah saya pindah ke Sungailiat dan menetap dalam rangka tugas negara sebagai veteran Tentara Pelajar area Malang (dulu beliau sekolah di STM Malang). Ibu saya pindah ke Sungailiat dan menetap tahun 1960 dalam rangka menjadi karyawan Unit Penambangan Timah Bangka (UPTB, kini PT. Timah) sebagai perawat di rumah sakit UPTB (kini Medika Stania) Sungailiat.
Saya tinggal di kampung Sri Pemandang Atas. Keluarga saya beragama Katolik, dan mayoritas tetangga saya beragama Islam. Rumah orangtua saya dibangun oleh keluarga Min Ho, pemborong kecil-kecilan yang rumahnya berjarak tidak sampai satu kilometer dari rumah orangtua saya. Dari pemborong, kepala tukang hingga pembantunya adalah keluarga Min Ho. Mereka asli Tionghoa, Khek/Hakka, dan Kong Fu Cu. Sampai saya dewasa, orangtua saya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga Min Ho.
Sebagian tetangga saya adalah Tionghoa bersuku Hakka/Khek dan beragama Kong Fu Cu. Keluarga Atung sang anemer kelas menengah, keluarga Bong Acit yang mempunyai toko di simpang Sri Pemandang Atas, keluarga Ajin yang berumah di depan surau kampung kami, keluarga Alun yang bersebelahan dengan keluarga Ajin, keluarga Tong Sen yang masih keluarga Alun, keluarga Achiang yang mempunyai usaha pabrik tahu dan jahit pakaian, dan keluarga Asiuk yang memiliki pohon rambutan di sekeliling rumah mereka.
Sebelum saya mengenyam bangku sekolah, saya selalu diajak keluarga besar saya berkunjung ke rumah tetangga yang sedang merayakan Imlek. Orang daerah saya menyebutnya “Kongian”. Yang paling saya ingat adalah ketika diajak ber-Imlek di rumah keluarga Achiang karena di sana saya sekeluarga besar selalu langsung dipersilakan ke dapur, diberi satu meja bundar, dan lengkap dengan makanan. Sama sekali tidak pernah di ruang tamu.
Dan di kampung kami yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tidak pernah anti terhadap orang Tionghoa dan Imlek-nya. Amin, anak sulungnya Anemer Atung adalah kiper kesebelasan kampung kami (Panser – Persatuan Anak Sri Pemandang, yang pernah merajai persepakbolaan tahun 1980-an di kabupaten Bangka yang luasnya nyaris satu pulau Bangka), dan kiper PS Bangka. Acin, anak ketiga pemborong Min Ho, juga kiper, dan sampai PS Bangka. Ada lagi kawan saya, Acuy alias Bacuy alias Bacok, orang Tionghoa kampung sebelah yang jadi strikernya, termasuk di PS Bangka.
Para pemuda kampung kami selalu bersatu. Untuk pendekatan kepada seorang cewek, datangnya juga beramai-ramai pada malam Minggu. Bahkan Amin anak Atung jadi mualaf karena istrinya gadis Melayu-Islam. Untuk yang satu ini (mendekati cewek) saya tidak pernah bergabung sebab saya memiliki agenda malam Minggu (ini rahasia pribadi!) dengan kawan-kawan yang lain. Tetapi setiap hari raya Imlek, saya dan kawan-kawan kampung selalu bertamu ke rumah tetangga yang merayakannya.
Saya bersekolah (TK sampai SMP) di sekolah milik yayasan Katolik. Sekolah ini berisi sekitar 70% kawan Tionghoa. Beberapa guru adalah orang Tionghoa/Khek. Ketika SMP, kepala sekolah kami orang Tionghoa. Dari TK sampai SMP saya bisa satu kelas dengan kawan-kawan yang sama. Ketika kelas I SD, orangtua saya memiliki pembantu yang beretnis Tionghoa.
Sekolah kami, yang mayoritas muridnya beretnis Tionghoa-Kong Fu Cu dan 30%-50% gurunya juga Tionghoa, otomatis selalu berlibur tiga hari selama Hari Raya Imlek. Padahal, secara nasional, pada tahun 1980-an rezim ORBA melarang keras perayaan Imlek itu. Selama tiga hari itu saya bebas bertamu. Ke tetangga sekitar rumah, maupun ke rumah kawan-kawan sekolah saya di kawasan Pasar Sungailiat. Saya pun bahagia bersama mereka.
Tapi sejak 10 Juni 1987  hingga 14 Mei 2005 saya tidak merayakan Imlek karena saya tinggal di Yogyakarta untuk mengembalikan “ke-Jawa-an” saya. Saya sering pulang ke rumah mbah saya di Solo, dan kadang ke Madiun. Sayangnya, saya tidak mampu menjadi Jawa 100% atau minimal 80% karena jiwa saya sudah menyatu dengan belacan dan air timah Bangka.
Di Sungailiat saya masih menikmati Imlek tahun 2006. Jelang pertengahan 2006 saya pindah ke Jakarta Barat. Tahun 2007 dan 2008 saya ber-Imlek di Jakarta. Tahun 2009 adalah Imlek terakhir saya alami di Sungailiat.
Selain itu, di Jakarta Barat saya memiliki bos/atasan beretnis Tionghoa dan berasal dari Bangka. Saya selalu senang bekerja bersama orang Tionghoa, apalagi kalau dari Bangka. Soal berapa gaji saya sepatutnya, mereka mampu menghargai. Bukan soal besar-kecil gaji tetapi bekerja dengan semangat kerukunan orang Bangka yang pluralis itu memang mantap.
Reuni sekolah 26 Oktober 2012 mengembalikan saya kepada hakikat persahabatan dan persaudaraan saya dengan kawan-kawan Tionghoa. Malam Tahun Baru 1 Januari 2013 saya berkumpul lagi dengan kawan-kawan di Sungailiat. Saya sangat mengasihi orang-orang Tionghoa sampai akhir hayat saya nanti.

********
Martadinata Balikpapan, 4 Februari 2013

Imlek yang Terasa Banget Bangka-nya di Balikpapan

Walaupun sudah menjadi warga Balikpapan, Kaltim, sejak 2009, saya tidak bisa melupakan Imlek ketika masih tinggal di Sungailiat, Bangka yang kemudian saya abadikan dalam tulisan “Imlek Bagi Saya”. Selama 7 tahun saya mengunjungi rumah orang Tionghoa yang ber-Imlek hanya satu kali, yaitu rumah keluarga Pak Kiman pada 2563 atau 2012 M.
Lainnya atau selanjutnya, seperti kawan sejak 2010–si  tukang martabak rasa Bangka nan terlezat di Balikpapan alias Asen? Tidak pernah. Sebabnya? Asen sekeluarga biasanya pulang ke Pangkalpinang, Bangka. Jadi, saya ber-Imlek dengan ingatan, kenangan, dan apa saja yang ada dalam pikiran saya.
Dengan khayalan itu, kemarin, di akun FB saya pun mengucapkan “Gong Xi Fa Chay, Selamat Kongian” berlatar foto pemandangan depan Puri Tri Agung, Sungailiat, yang saya kunjungi pada 2 November 2015. Dua hari sebelumnya, saya memajang foto berupa kotak martabak “Asen” yang “paling Bangka se-Balikpapan”. Kedua pajangan tersebut merupakan “kerinduan” ber-Imlek saya yang telah jauh dari Bangka.
Pada pajangan foto kotak martabak, kawan saya–Pak Puji, seorang Muslim-Jawa yang rajin sholat dan dosen di sebuah universitas di Balikpapan –mengomentari  dengan menyebut nama “Pak Kiman”. Saya teringat, pada Imlek 2012 itu saya ber-Imlek di rumah Pak Kiman karena diajak oleh kawan saya itu. Apakah kawan saya sengaja “menyindir” agar saya mau diajak lagi ber-Imlek ke rumah Pak Kiman?
Langsung saya tanggapi dengan ajakan ber-imlek ke rumah Pak Kiman. Apa asyiknya ber-Imlek hanya dalam kepala saya sendiri, ‘kan? Saya harus membumi; Balikpapan bukanlah Sungailiat. Baiklah.
Dan, senyampang kawan saya lainnya–Agus, sealumni kampus dengan saya–berkunjung ke rumah pada malam sebelum Imlek. Dalam kunjungannya, dia sempat menelpon seorang kawannya–Amuk, orang Bangka. Dia mengucapkan “Selamat Imlek”. Ternyata pada Imlek ini kawannya berada di Balikpapan (biasanya ketika Imlek dia berada di Jakarta), dan menyuruh kawan saya untuk datang.
Beberapa bulan silam kawan saya pernah mengenalkan saya dengan Amuk melalui hubungan seluler. Sebagai sesama orang Bangka, apalagi satu kabupaten (Bangka Induk), saya dan Amuk ngobrol menggunakan bahasa Bangka bercampur Tionghoa. Obrolan berasa di daerah sendiri.
Ya! Berarti Imlek 2567 atau 2016 M kali ini saya akan mengunjungi dua orang Tionghoa-Bangka! Berarti juga saya tidak perlu mengulangi Imlek hanya dalam kepala saya sendiri, apalagi kalau diam-diam ada yang menuduh saya sedang galau tingkat Kotamadya Balikpapan.

*
Imlek, yang kata orang, berhubungan intim dengan hujan, tidaklah demikian pada Imlek 2016. Satu hari menjelang Imlek, cuaca tampak galau. Mendung sebatas iklan. Demikian pula ketika bertepatan dengan Imlek 2016. Hubungan intim tersebut tidak perlu saya percaya. Mending percaya bahwa kunjungan Imlek akan lebih bermanfaat dalam kesehatan pikiran.
Ini Balikpapan. Imlek-nya tanpa hujan pada 2016. Di Bangka, menurut berita, malah terjadi banjir di beberapa tempat. Sepertinya cuaca sedang mendukung saya untuk keluar rumah; bukannya berkhayal melulu.
Maka, dalam suhu udara yang cukup gerah (Monyet Api sedang memanggang Balikpapan) pada pkl. 13.00 WITA saya dan kawan saya berangkat ke rumah Amuk. Hanya sekitar 15 menit perjalanan, kami pun sampai.
Di sanalah saya benar-benar bertemu dan ngobrol langsung dengan Amuk. Dia berasal dari daerah Pantai Rebo, yang berkecamatan Kenanga. Daerahnya, tentu saja, bukan daerah baru bagi saya. Kemudikan saya sampai berkunjung dan terabadikan dalam foto berupa Puri Tri Agung memang daerahnya.
Amuk berada dan bekerja di Balikpapan sejak 2012. Di rumah bertipe 45 dengan gaya masa kini (minimalis amburadul) sebagiann halamannya ditanami bayam itu dia tempati baru satu tahun. Sebelumnya masih mengontrak rumah di sana-sini. 
Pada kesempatan Imlek ini saya pun bisa berkenalan dengan istrinya (saya lupa namanya!). Ternyata istrinya sealumni dengan saya di SD dan SMP Maria Goretti, Sungailiat! Istrinya adik kelas saya tetapi jauh tahun perbedaannya. Istrinya masih tergolong keponakan Pak Min Ho–guru bidang pelajaran Matematika dan Olah Raga di SD Maria Goretti. Wadaw!
Wadaw lagi, sajian Imlek mereka adalah tekwan. Cocok! Imlek kali ini sangat terasa Bangka-nya bagi saya. Memang tidak perlu repot berkhayal, jika Imlek di Balikpapan adalah kenyataan, meski saya harus beralih ke rumah Pak Kiman tanpa disertai kawan saya karena dia akan ke rumah kawannya.
Letak rumah Pak Kiman masih lekat dalam ingatan saya. Dua tiang ulin (kayu hitam) yang masih utuh (bulat) di teras sampingnya adalah penanda utama sejak Imlek 2012. Dan, memang tidak berubah.
Sekitar pkl. 15.00 WITA saya berada di teras samping yang berkursi potongan kayu ulin itu. Pak Puji belum sampai. Ketika saya hubungi, tidak ada sahutan di seberang udara sana. Baiklah, saya lanjutkan obrolan dengan Pak Kiman.
Pak Kiman berasal dari Kampung Opas, Pangkalpinang, Bangka. Saya teringat, di daerah itu terdapat kantor konsultan bangunan, yang pernah menjadi tempat kerja saya. Oh, ini suatu kebetulan seperti apa lagikah?!
Berikutnya Pak Kiman berada di Balikpapan pada 1999. Menempati rumah bertiang ulin itu sejak 2002. Dia masih memiliki lahan seluas 4 hektar di daerah Balikpapan Timur. Sebagian lahannya di sana ditanaminya dengan pepohonan buah, dan sedang ditanami sahang (lada; merica) yang berasal dari Bangka.
Ya, Pak Kiman memang rajin berkebun. Berkebun merupakan salah satu kegiatan yang ditekuni oleh masyarakat Tionghoa-Bangka. Bahkan, saya tidak heran, seorang kawan sealumni saya di SMP Maria Goretti adalah seorang pekebun sayur di daerah Jalan Laut, Sungailiat.
Kemudian saya sempatkan menghubungi Pak Puji lagi. Tersambung. Ternyata Pak Puji ketiduran. Pak Puji pun segera berangkat ke rumah Pak Kiman.
Pkl. 17.50 WITA Pak Puji datang. Tapi saya tidak bisa menemani ngobrol tingkat lanjut karena saya harus pulang (setelah perut kenyang soto dan es buah cempedak). Ya, pkl. 18.15 WITA saya berpamitan pada Pak Kiman sekeluarga.
Imlek 2567 atau 2016 M ini alangkah senangnya saya, meski hanya berkunjung ke dua rumah orang Tionghoa. Senangnya saya karena bisa ber-Imlek lagi, ngobrol dengan sesama Bangka, dan berbahasa Bangka bercampur Tionghoa. Terasa sekali Bangka-nya!

*******

Panggung Renung – Balikpapan, 8 Februari 2016
Rencana sampul depan bukunya :